Minggu, 20 Oktober 2013

Pembelajaran Berbasis Proyek Ciri-ciri pembelajaran yang berpusat pada Guru, satu Arah, isolasi, pasif, abstrak, pribadi, luas (semua materi diajarkan), Stimulasi Rasa Tunggal (beberapa panca indera), Alat Tunggal (papan tulis), Hubungan Satu Arah, Produksi Masa (siswa memperoleh dokumen yg sama), Usaha Sadar Tunggal (mengikuti cara yang seragam), Satu Ilmu Pengetahuan Bergeser (mempelajari satu sisi pandang ilmu), Kontrol Terpusat (kontrol oleh guru), Pemikiran Faktual, dan Penyampaian Pengetahuan (pemindahan ilmu dari guru ke siswa). Ciri-ciri pembelajaran seperti ini merupakan paradigma pembelajaran masa lalu yang oleh sebagian guru-guru kita masih menerapkan dalam proses pembelajaran. Pembaharuan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah dari masa kemasa merupakan upaya untuk meninggalkan paradigma lama, namun kenyataannya belum membuahkan hasil yang signifikan dalam peningkatan mutu pendidikan. Kurikulum 2013 yang menganut pendekatan scientific yang menjadikan siswa sebagai titik sentral dalam proses pembelajaran. Peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berpikir logis, sistematis, bersifat objektif, jujur dan disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah yang berguna untuk kehidupan. Mata pelajaran hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan, untuk dapat melatih siswa memiliki keterampilan berpikir. Guru hendaknya menempatkan diri sebagai pasilitator dan menjadikan siswa sebagai titik sentral. Paradigma pembelajaran yang harus dikembangkan bercirikan sebagai berikut : Berpusat pada Siswa, Interaktif, Lingkungan Jejaring, Aktif-Menyelidiki, Konteks Dunia Nyata, Pembelajaran Berbasis Tim, Perilaku Khas Memberdayakan Kaidah Keterikatan, Stimulasi ke Segala Penjuru (semua Panca indera), Alat Multimedia (berbagai peralatan teknologi pendidikan), Kooperatif, Kebutuhan Pelanggan (siswa mendapat dokumen sesuai dgn ketertarikan sesuai potensinya), Jamak (keberagaman inisiatif individu siswa), Pengetahuan Disiplin Jamak (pendekatan multidisiplin), Otonomi dan Kepercayaan (siswa diberi tanggungjawab), Kritis (membutuhkan pemikiran kreatif), dan Pertukaran Pengetahuan (antara guru dan siswa, siswa dan siswa lainnya). Model pembelajaran direkomendakan yang sejalan dengan paradigma di atas adalah: Problem Based Learning , Project Based Learning , Cooperative Learning, dan Discovery Learning. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Karakteristik PBL sebagai berikut : a. Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja b. Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya c. Siswa merancang proses untuk mencapai hasil d. Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan e. Siswa melakukan evaluasi secara kontinu f. Siswa secara teratur melihat kembali apa yang meraka kerjakan g. Hasil akhir berupa produk dan di evaluasi kualitasnya h. Kelas memiliki atmosfir yang memberikan toleransi kesalahan dan perubahan. Langkah-langkah Operasional pembelajaran Berbasis Projek sbb: 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERENCANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 4 MONITORING 5 MENGUJI HASIL 6 EVALUASI PENGALAMAN

Jumat, 04 Oktober 2013

CONTOH RPP MATEMATIKA SMP YANG MASIH HARUS DIREVISI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Nama Sekolah : SMP N LPMP SULSEL Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : VII/Genap Materi Pokok : Aritmetika Sosial Alokasi Waktu Pertemuan ke-2 : 2x40 menit A. Tujuan Pembelajaran 1. Menunjukkan ingin tahu selama mengikuti proses pembelajaran 2. Menunjukkan rasa tanggungjawab terhadap kelompoknya dalam menyelesaikan tugas 3. Menyelesaikan masalah aritmetika sosial sederhana yang melibatkan konsep untung dan rugi. B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi: 2.1 Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika sertarasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentukmelalui pengalaman belajar. 2.2 Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, menghargai pendapat dan karya temandalam interaksi kelompok maupun aktifitas sehari-hari. 4.2 Menggunakan konsep aljabar dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosialsederhana. IndikatorPencapaianKompetensi: Siswa mampu: 1. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi sederhana di warung atau pasar tradisional yang melibatkan konsep untung atau rugi. C. Materi Ajar 1. Untung dan rugi 2. Persentase untung dan rugi 3. Kegiatan ekonomi sederhana di warung atau pasartradisional melibatkan konsep untung dan rugi D. Metode Pembelajaran Tanya-jawab, diskusi kelompok dan penugasan kelompok Model Pembelajaran yang digunakan adalah project based learning E. Media Pembelajaran Lingkungan, papan nama, uang F. Sumber Belajar Buku Siswa, LKS G. KegiatanPembelajaran Kegiatan DeskripsiKegiatan Waktu Kegiatan Guru KegiatanSiswa Penda-huluan 1. Memberi salam dan mengajak peserta didik berdoa; 2. Menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa; 3. Menayangkan gambar sebuah aktivitas yang terkait denganAritmatika Sosial dalam kehidupan sehari-hari; 4. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; 5. Menginformasikan tentang proses pembelajaran yang akan dilakukan termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran berlangsung; 6. Melakukan apersepsi dengan melakukan pertanyaan secara klasikal yang bersifat menuntun dan menggali. 1. Membalas salam dan berdoa; 2. Menjawab pertanyaan guru; 3. Mengamati gambar yang ditayangkan guru; 4. Menyimak tujuan pembelajaran; 5. Menyimak informasi yang disampaikan guru; 6. Menjawab pertanyaan guru 15 menit Inti Fase-1: Penentuan Pertanyaan Mendasar Guru mengemukakan pertanyaan esensial yang bersifat eksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki siswa berdasarkan pengalaman belajarnya yang bermuara pada penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. 1. Bagaimanaseorangpedagangbisamemperolehkeuntungan? 2. Bagaimanaseorangpedagangbisamengalamikerugian? Fase-2.MendesainPerencanaan Proyek (Design a Plan for the Project) • Guru Mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok yang heterogen (4-5) orang. Heterogen berdasarkan tingkat kognitif atau etnis • Guru memfasilitasi setiap kelompok untuk menentukan ketua dan sekretaris secara demokratis, dan mendeskripsikan tugas masing-masing setiap anggota kelompok. • Memfasilitasi peserta didik mendiskusikan aturan main untuk disepakati bersama dalam proses penyelesaian proyek. Hal-hal yang disepakati: pemilihan aktivitas, waktu maksimal yang direncanakan, sanksi yang dijatuhkan pada pelanggaran aturan main, tempat pelaksanaan proyek, hal-hal yang dilaporkan, serta alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek Fase-3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule) • Memfasilitasi peserta didik untuk membuat jadwal aktifitas yang mengacu pada waktu maksimal yang disepakati. • Memfasilitasi peserta didik untuk menyusun langkah alternatif, jika ada sub aktifitas yang molor dari waktu yang telah dijadwalkan. • Meminta setiap kelompok menuliskan alasan setiap pilihan yang telah dipilih. Fase-4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek • Membagikan Lemba Kerja siswa yang berisi tugas peroyek dengan tagihan: 1) menuliskan informasi yang secara eksplisit dinyatakan dalam tugas, 2) menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan masalah/tugas yang diberikan, 3) menuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan pengalaman belajarnya yang terkait dengan tugas, 4) mengaitkan konsep-konsep yang dinyatakan secara eksplisit dalam tugas dengan konsep-konsep/prinsip-prinsip yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman belajarnya, 5) melakukan dugaan-dugaan berdasarkan kaitan konsep poin 4), 6) menguji dugaan dengan cara mencoba, 6) menarik kesimpulan • Memonitoringterhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek dengan caramelakukan skaffolding jika terdapat kelompok membuat langkah yang tidak tepat dalam penyelesaian proyek. Fase-5. Menguji Hasil (Assess the Outcome) • Guru telah melakukan penilaian selama monitoring dilakukan dengan mengacu pada rubrik penilaian.yang bertujuan: mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Fase-6. Mengevaluasi Pengalaman • Memfasilitasipeserta didik secara berkelompok melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Hal-hal yang direfleksi adalah kesulitan-kesulitan yang dialami dan cara mengatasinya dan perasaan yang dirasakan pada saat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Selanjutnya kelompok lain diminta menanggapi Menyimakpertanyaan yang disampaikan guru Mengikutiinstruksi guru untukberkelompok Berdiskusimenentukanketuadansekretariskelompokdandeskripsitugasmasing-masinganggotakelompok Mendiskusikanaturan main dalampenyelesaianproyek Berdiskusimenyusunjadwalaktivitas Berdiskusidengantemankelompokmenentukanlangkah alternative Menuliskanhasildiskusikelpmpok Mengamatidanmemahami LKS yang dibagikan guru Melakukanaktivitasberdasarkanpetunjuk yang adadalam LKS:, denganrinciansebagaiberikut: 1) menuliskan informasi yang secara eksplisit dinyatakan dalam tugas, 2) menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan masalah/tugas yang diberikan, 3) mencobamenuliskan konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan pengalaman belajarnya yang terkait dengan tugas, 4) menalarketerkaitan konsep-konsep yang dinyatakan secara eksplisit dalam tugas dengan konsep-konsep/prinsip-prinsip yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman belajarnya, 5) melakukan dugaan-dugaan berdasarkan kaitan konsep poin 4), 6) menguji dugaan dengan cara mencoba, 6) menarik kesimpulan Secaraberkelompokmelakukanrefleksiterhadapaktivitasdanhasilproyek yang sudahdijalankan 60 menit Penutup • Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyimpulkan hasil temuan barunya, • Guru memberikan tugas pada buku halaman 297 UjiKompetensi 7.1 nomor 1 dan 2 untukdikerjakan di rumah. Menyimpulkanhasiltemuanbaru Menyimaktugas yang diberikan guru 5 menit H. Penilaian 1. Prosedur Penilaian: No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian 1 Rasa ingin tahu Pengamatan Kegiatan inti nomor 2 Tanggungjawab dalam kelompok Pengamatan Kegiatan inti nomor 3 keterampilan matematika Proyek 2. Instrumen penilaian: LEMBAR PENGAMATAN PERKEMBANGAN SIKAP Sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam kelompok. Indikator perkembangan sikap INGIN TAHU 1. Kurang baik : jika sama sekali tidak berusaha untuk mencoba atau bertanya atau acuh tak acuh (tidak mau tahu) dalam proses pembelajaran 2. Baik : jika menunjukkan sudah ada usaha untuk mencoba atau bertanya dalam proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten 3. Sangat baik : jika menunjukkan adanya usaha untuk mencoba atau bertanya dalam proses pembelajaran secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator perkembangan sikap TANGGUNGJAWAB (dalam kelompok) 1. Kurang baik : jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam melaksanakan tugas kelompok 2. Baik : jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam melaksanakan tugas-tugas kelompok tetapi belum ajeg/konsisten 3. Sangat baik : jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. NO Nama Rasa ingin tahu Tanggungjawab SB B KB SB B KB 1 2 3 ... 40 SB = sangat baik B = baik KB = kurang baik Lembar Penilaian Tugas Proyek: Contoh-1: dengan skala rentang (rating scale) No Nama Siswa Aspek yang dinilai Kriteria penskoran Tahap Persi-apan Tahap Pelaksanaan Tahap Pela-poran Skor yang dicapai Nilai • Skor 4 = tanpa kesalahan • Skor 3 = ada sedikit kesalahan • Skor 2 = ada banyak kesalahan • Skor 1 = tidak melakukan • Skor maksimal = 12 • Skor minimal = 3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. … … 40 Catatan: Jumlah skor dapat ditransfer ke nilai dengan skala 0 s.d. 100 . Contoh: Nilai A = 11 : 12 × 100 = 91,6) Keterangan: a. Aspek yang dinilai pada tahap persiapan adalah: persiapan format-format untuk pengumpulan data secara langsung maupun dengan lembar isian b. Aspek yang dinilai pada tahap pelaksanaan adalah: proses pencatatan data, pengelompokan data dan analisis data. c. Aspek yang dinilai pada tahap pelaporan adalah: ketepatan isi laporan dan bentuk sajian laporan. LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT T ST 1 A 2 B 3 ….. 40 Keterangan: KT : Kurang terampil T : Terampil ST : Sangat terampil Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan. 1. Kurangterampiljika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan. 2. Terampiljika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan tetapi belum tepat. 3. Sangat terampill,jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan tugas yang diberikan dan sudah tepat. Makassar, 24 Juli 2013 Guru Mata Pelajaran LAMPIRAN RPP PERTEMUAN KE-2i Lampiran -1 : LembarKerjaProyek Lampiran -2 : Lembar PengamatanPerkembanganSikap Lampiran-3 : LembarpengamatanPenilaianKeterampilanLampiran-1 LEMBAR KERJA PROYEK Nama Sekolah : SMP N LPMP SULSEL Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : VII/Genap Materi Pokok : Aritmetika Sosial Alokasi Waktu Pertemuan ke-2 : 2x 40 menit Kompetensi Dasar : 2.1 Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika sertarasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentukmelalui pengalaman belajar. 2.2 Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, menghargai pendapat dan karya temandalam interaksi kelompok maupun aktifitas sehari-hari. 4.2 Menggunakan konsep aljabar dalam menyelesaikan masalah aritmatika sosialsederhana. Nama Anggota Kelompok ….. 1. …………………………… ../…. 2. …………………………… ../…. 3. …………………………… ../…. 4. …………………………… ../…. 5. …………………………… ../…. Langkah-langkahPenyelesaianProyek a. Kerjakan tugas ini secara kelompok. Pakai kelompok belajar di kelas yang sudah terbentuk. b. Lakukan wawancara terhadap dua orang penjual di kantin sekolah. Buatlah daftar pertanyaan untuk wawancara dan siapkan lembaran atau format untuk mencatat hasil wawancara. Terhadap setiap pedagang yang diwawancara, kumpulkan data tentang: 1. modal yang dimiliki, 2. untung yang rata-rata diperoleh setiap hari, atau rugi yang pernah dialami dan apa penyebabnya, 3. kegiatan penting apa saja yang dilakukan dalam berdagang terutama dalam hal pengadaan barang dan penjualan. c. Buatlah laporan secara tertulis tentang kegiatan yang dilakukan sejak perencanaan, pelaksanaan dan hasil yang diperoleh. Laporan mencakup komponen: (1) Tujuan kegiatan (2) Persiapan (3) Pelaksanaan (4) Hasil yang Diperoleh (5) Kesan dan Pesan terhadap Tugas. Laporan tentang hasil yang diperoleh memuat hal-hal berikut ini: 1. Penyajian data yang diperoleh dalam bentuk tabel sesuai pengelompokan data pada nomor b. 2. Penjelasan tentang: a) Pedagang mana yang persentase keuntungan/kerugiannya paling banyak dan besarnya persentase. Dalam kondisi yang bagaimana keuntungan/kerugian biasa terjadi. b) Kegiatan yang pada umumnya harus dilalui para pedagang dalam berdagang. 3. Laporan dikumpulkan paling lambat satu minggu setelah diberikan tugas ini. Lampiran-2 LEMBAR PENGAMATAN PERKEMBANGAN SIKAP Nama Sekolah : SMP N LPMP SULSEL Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : VII/Genap Materi Pokok : Aritmetika Sosial WaktuPengamatan : 24 Juli 2013 Kompetensi Dasar : Nomor 2.1, 2.2, 4.2 Sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah rasa ingin tahu dan tanggung jawab dalam kelompok. Indikator perkembangan sikap INGIN TAHU 1. Kurang baik : jika sama sekali tidak berusaha untuk mencoba atau bertanya atau acuh tak acuh (tidak mau tahu) dalam proses pembelajaran 2. Baik : jika menunjukkan sudah ada usaha untuk mencoba atau bertanya dalam proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten 3. Sangat baik : jika menunjukkan adanya usaha untuk mencoba atau bertanya dalam proses pembelajaran secara terus menerus dan ajeg/konsisten Indikator perkembangan sikap TANGGUNGJAWAB (dalam kelompok) 1. Kurang baik : jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam melaksanakan tugas kelompok 2. Baik : jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam melaksanakan tugas-tugas kelompok tetapi belum ajeg/konsisten 3. Sangat baik : jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan konsisten Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. NO Nama Rasa ingin tahu Tanggungjawab SB B KB SB B KB 1 NURUL WAHDANIAH 2 REZKY AMANDA PUTRY ADO 3 ROFI'AH RIDWAN 4 FADHILA FEBRIYANTI NAJAMUDDIN 5 ASTI RAHAYU ARJUNI 6 ANDI GUSTI AYU NIRMALA PUTRI 7 TRI FALDY 8 NURFADILLAH MUSTAFA 9 MUH. TAQWA 10 TERESIA GALLA 11 NURUL FATWA ISLAMIA 12 NURPITASARI 13 LIDYA OKTAVIA LB 14 NURASIZAH 15 ANDI MUH. FITRAH MUHYIDDIN 16 AR RIFQI RAHMAT RAMADHAN A 17 NURLAELA 18 NURUL FAATIHAH ASHYLA 19 MUHAMMAD FAQHI UFAIRAH 20 AINUNNISA PRATIWI 21 TAMSIR 22 MUH. IKRAM 23 SUCI RAMADHAN. R 24 JULIAM ANDI MORIGERUS PARINSI 25 FADYA ZASHILYA TIFANI 26 RISKA NUR ANISA 27 IRNA SURYANI S 28 MULDANI 29 MUH. ICHSAN IBRAHIM 30 ANNISA RACHMI SHALSABILA 31 SINDI YUSNIAWATI 32 FITRI ANI 33 FLORENTIN YULIANI TUENG 34 A.TENRI SA'NA N 35 KHUSNUL AMALIA 36 NITA ADRIANA 37 NUBILA NURUL AULIA 38 RIZKY FAJRI UTAMI ABDI 39 ANDI ATIKAH PERMATA MAHDIYAH P 40 RIAN RENALDI SB = sangat baik B = baik KB = kurang baik   LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN Nama Sekolah : SMP N LPMP Sulsel Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : VII/Genap Materi Pokok : Aritmetika Sosial WaktuPengamatan : 24 Juli 2013 Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan. No Nama Siswa Keterampilan Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah KT T ST 1 NURUL WAHDANIAH 2 REZKY AMANDA PUTRY ADO 3 ROFI'AH RIDWAN 4 FADHILA FEBRIYANTI NAJAMUDDIN 5 ASTI RAHAYU ARJUNI 6 ANDI GUSTI AYU NIRMALA PUTRI 7 TRI FALDY 8 NURFADILLAH MUSTAFA 9 MUH. TAQWA 10 TERESIA GALLA 11 NURUL FATWA ISLAMIA 12 NURPITASARI 13 LIDYA OKTAVIA LB 14 NURASIZAH 15 ANDI MUH. FITRAH MUHYIDDIN 16 AR RIFQI RAHMAT RAMADHAN A 17 NURLAELA 18 NURUL FAATIHAH ASHYLA 19 MUHAMMAD FAQHI UFAIRAH 20 AINUNNISA PRATIWI 21 TAMSIR 22 MUH. IKRAM 23 SUCI RAMADHAN. R 24 JULIAM ANDI MORIGERUS PARINSI 25 FADYA ZASHILYA TIFANI 26 RISKA NUR ANISA 27 IRNA SURYANI S 28 MULDANI 29 MUH. ICHSAN IBRAHIM 30 ANNISA RACHMI SHALSABILA 31 SINDI YUSNIAWATI 32 FITRI ANI 33 FLORENTIN YULIANI TUENG 34 A.TENRI SA'NA N 35 KHUSNUL AMALIA 36 NITA ADRIANA 37 NUBILA NURUL AULIA 38 RIZKY FAJRI UTAMI ABDI 39 ANDI ATIKAH PERMATA MAHDIYAH P 40 RIAN RENALDI Keterangan: KT : Kurang terampil T : Terampil ST : Sangat terampil Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan untungdanrugi. 4. Kurangterampiljika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan untungdanrugi 5. Terampiljika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan untungdanrugi. 6. Sangat terampill,jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan untungdanrugi.

Minggu, 08 September 2013

MaNTaP: Analisis strata norma


MaNTaP:
Penggunaan bahasa Inggris telah menjadi perdebatan panjang sejak masa Sutan Takdir Alisyahbana pada tahun 60an. Bangsa kita masih terombang-ambing antara mengadopsinya menjadi bahasa kedua atau menganggapnya seebagai bahasa asing. Karena jelas, antara keduanya akan muncul perlakuan yang berbeda. Di negara kita, belajar bahasa Inggris diyakini akan dapat meningkatkan kerja para pegawai. Bangsa kita juga meyakini bahwa dengan belajar bahasa inggris akan membuat negara kita menjadi negara yang maju di era globalisasi ini.
Karena itulah penguasaan bahasa Inggris kemudian menjadi syarat yang penting agar seseorang dapat lulus dalam ujian menjadi pegawai. Tapi, yang terjadi di negara kita adalah ternyata dengan masuk lembaga pendidikan bahasa Inggris yang paling bergengsi sekalipun tidak menjadi syarat mutlak yang membuat kita mampu mendongkrak kemampuan bahasa Inggris. Anggapan bangsa kita yang seperti itu sebenarnya adalah anggapan yang keliru. Kita seharusnya mengambil falsafah orang Jepang yang dalam belajar bahasa kedua mereka beranggapan ‘get the content, leave lhe language behind’ (dapatkan ide yang ada dalam bahasa tersebut dan tinggalkan bahasa asing tersebut). Mereka berkeyakinan bahwa tanpa menguasai bahasa Inggris pun, mereka akan sanggup menjadi bangsa yang besar. Dengan menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa sendiri tentu akan lebih membawa manfaat karena akan lebih mudah dibaca oleh masyarakat kita, daripada harus sibuk membaca buku-buku barat dengan menyanding kamus besar bahasa Inggris.
Di negara kita, kemampuan penggunaan bahasa Inggris juga belum dimanfaatkan dengan optimal bagi mereka yang sudah menguasai bahasa kedua ini. Masyarakat atau orang yang menguasai bahasa tersebut cenderung tidak mampu menggunakan kemampuannya untuk ikut mengembangkan masyarakat sekitarnya. Jadi, kemampuan itu hanya untuk kepentingan pribadinya, misalnya saja dalam ekonomi dan politik. Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa menguasai bahasa Inggris mampu membuat bangsa kita maju sedangkan fakta yang terjadi di lapangan tidak terbukti sama sekali.
Terkait dengan kenyataan yang terjadi saat ini, terutama media periklanan yang seakan menjadi guru bagi masyarakat kita perlu disikapi oleh pemerhati bahasa Indonesia untuk dapat memberikan dorongan dan desakan kepada aparat birokrasi untuk memamfaatkan lembaga kebahasaan sebagai penyaring, bahkan kalau perlu memamfaatkan lembaga yang ada menjadi tim verifikasi untuk setiap iklan yang akan ditayangkan ataupun yang akan dipajang di tengah-tengah masyarakat. Tentunya membutuhkan penelitian awal untuk dapat melakukan hal tersebut.
Dalam era otoda seperti sekarang ini pemerintah daerah sangat besar peranannya. Olehnya itu, sudah selayaknya masyarakat yang berkecimpung dalam kebahasaan lebih proaktif melakukan pendekatan dan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyampaikan ide-ide strategis terkait dengan penggunaan Bahasa Indonesia dalam periklanan. Mengapa hal ini perlu dilakukan karena pintu yang memberikan keluwesan dan perizinan iklan berada di tangan pemerintah daerah. Demikian juga  yang ditayangkan dalam media nasional seperti televisi hendaknya Pusat Bahasa mengambil peran untuk mengantisipasi terjadinya dominasi bahasa asing pada iklan-iklan yang ditayangkan. Kongres dan komferensi bahasa yang dilakukan selama ini juga belum memberikan kontribusi positif terhadap pencegahan imperialisme yang dialami Bahasa Indonesia.
Pada intinya membutuhkan intervensi dari pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mencegah berlarut-larutnya dominasi bahasa asing dalam periklanan. Bilamana dibiarkan berlarut-larut jati diri bangsa ini akan tergilas habis di masa yang akan datang. Bila perlu tidak ada salahnya kalau pemerintah membentuk sebuah Komisi Periklanan yang menempatkan orang-orang yang berkecimpung dalam Pembinaan Bahasa Indonesia. Negara kita mestinya belajar pada negeri Sakura yang menempatkan Bahasa Jepang pada posisi yang bergengsi di negerinya sendiri bahkan dunia luar. Contoh lain Bangladesh, yang telah menetapkan tahun 2008 sebagai tahun berbahasa ibu. Di Thailand, Jerman, Perancis dan beberapa negara lain tayangan-tayangan seperti film, berita harus di alih bahasakan ke bahasa mereka. Di Thailand bahkan semua iklan juga diharuskan menggunakan bahasa Thai. Namun yang paling utama dari semua ini adalah dengan menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia. Dengan adanya kebanggaan berbahasa Indonesia maka kita akan memiliki kewaspadaan dan komitmen untuk melindungi dan menjaga kelestarian bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan pemersatu bangsa. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus dijaga dan dipelihara agar tidak tidak tergerus zaman dan serbuan bahasa asing. Usaha ini cukup sulit dilakukan karena gencarnya serbuan bahasa asing terutama yang didukung oleh penggunaan media teknologi. Baik kiranya jika kita mengadaptasi cara negara lain dalam melindungi bahasa mereka. 
Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib melindungi dan mendukung perkembangan bahasa Indonesia. Sebenarnya fenomena penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris telah diantisipasi oleh pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 yang pada pasal 3 nya menyebutkan”menciptakan ketertiban, kepastian, dan standarisasi penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan. Pemberlakuan Undang-Undang ini semestinya diikuti dengan aplikasi nyata untuk melindungi pengeroposan bahasa Indonesia oleh bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnnya.
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengaplikasikan teori Crystal (2003) dalam pemertahanan bahasa. Menurut Crystal ada 6 aspek yang dapat membuat sebuah bahasa bertahan yaitu; gengsi, kesejahteraan, bahasa tulis, pendidikan, teknologi, dan kekuasaan. Adapun keungkinan aplikasinya adalah sebagai berikut;
1.    Dari aspek gengsi, kita semestinya dapat membuat bahasa Indonesia memiliki gengsi tersendiri dalam masyarakat. Ini dapat dilakukan dengan memberi penghargaan kepada orang maupun lembaga yang menggunakan bahasa dengan baik dan benar.
2.    Untuk aspek kesejahteraan, kita dapat memberi hadiah ataupun memberikan posisi yang lebih baik pada orang dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.  
3.    Dalam aspek bahasa tulis, kita dapat memotivasi penggunaan bahasa tulis yang baik dan benar pada media cetak maupun elektronik dengan cara memberikan penghargaan atau merekomendasikan mereka sebagai bacaan atau tayangan wajib di lembaga pemerintahan dan kalangan masyarakat.
4.    Dalam pendidikan, kita dapat memberikan model penggunaan bahasa yang baik dan benar, sekaligus mengawasi penggunaannya. Dalam bidang teknologi, kita dapat menggugah atau mengharuskan penyedia jasa di bidang teknologi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,dan
5.    Dari aspek kekuasaan, semestinya badan yang mengawasi penggunaan dan pengembangan bahasa di Indonesia harus memiliki kuasa yang memadai untuk dapat mengawasi maupun memberi sanksi kepada mereka yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.     







BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
            Problematika yang dihadapi Bahasa Indonesia saat ini cukup memperihatinkan dengan derasnya dominasi asing terutama terkait dengan promosi produk, yang lebih parahnya lagi adalah produk-produk dalam negeri dipromosikan  dengan menggunakan bahasa asing. Bahkan dalam dunia politik para calon legislatif dan eksekutif latah menggunakan bahasa Inggris dengan tampilan / cetakan yang lebih besar daripada teks bahasa Indonesia misalnya No Fear, Don’t Stop Komandan, We Can, dan sebagainya.
            Dapat dikatakan bahwa imperialisme baru di negeri telah merajalela khususnya dalam problematika kebahasaan. Semangat pemuda 28 Oktober 1928 semakin memudar, pemimpin negeri tidak sadar akan gelombang imperialisme kebahasaan yang telah melanda negeri kita. Kita tidak pernah tahu sampai kapan keadaan seperti ini dapat diatasi, intinya adalah masyarakat pemerhati bahasa Indonesia harus proaktif melakukan desakan-desakan kepada pemerintah agar melakukan interfensi untuk menertibkan semua atribut-atribut yang didominasi oleh bahasa asing yang belum tentu dimengerti oleh masyarakat umum.
3.2 Saran
            Berangkat dari keperihatinan mengenai imperialisme asing terhadap bahasa Indonesia maka dalam makalah ini penulis menyarankan sebagai berikut :
a.    Masyarakat kita agar tidak latah menggunakan bahasa asing dalam beromunikasi, tunjukkanlah jati diri sebagai bangsa yang bangga terhadap bahasa Indonesia yang telah diikrarkan pemuda 1928.
b.    Pemerintah kita sebaiknya melakukan interfensi dengan melibatkan pakar bahasa yang ada di negeri ini untuk menertibkan atribut-atribut yang berbau asing, yang tentunya diawali membuat undang-undang sebagai landasan hukum.
c.    Sebaiknya ada lembaga khusus atau sebuah Komisi yang diberi kewenangan untuk mencegah derasnya pengaruh asing dalam periklanan di Indonesia.










DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009.Jakarta. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2011. 
Crystal, David.Language Death. Cambridge:Cambridge University Press, 2003 
Fairclough, N. L. Critical Discourse. Harlow, UK: Longman. 1995 
Fairclough, N. L. and Wodak, R. Critical discourse analysis. London: Sage. 1997.
Meyerhoff, Miriam.Introducing Sociolinguistics. Oxon: Routledge, 2006
Nurudin.. Pengantar Komunikasi Massa. RajaGrafindo Persada: Jakarta, 2007
Phillipson, R.H.L. Linguistics Imperialism.Oxford.Oford University Press, 1992 
Schiller, H.. Not Yet the post-imperial era, in critical studies in mass communications.
          New York. Beacon press, 1991
Van Dijk, T. A.. Principles of Critical Discourse Analysis. Discourse and Society 4(2),
          249  83.1993









LAMPIRAN
Gambar-gambar di atas didominasi oleh bahasa Inggris
 
Pada gambar ini memperlihatkan jati diri Bahasa Indonesia